3 posts tagged “alfresco dining”
BANDUNG, KOMPAS -- Paris van Java, resort lifestyle pertama di Asia Tenggara yang memiliki konsep main street dan alfresco dining. Paris van Java bisa jadi merupakan resort lifestyle unik dan diklaim sebagai pionir di Indonesia.
Soal nama Paris van Java, Wawa mengambil nama nicknama Bandung tempoe doeloe. Nama ini pas karena pada zaman Bandung Paris van Java, banyak nuansa bunga. Wawa, lulusan arsitek ITB 1978 mengatakan, Paris van Java adalah proyek jangka panjang. "Untuk ruang terbukanya saja luasnya 2 hektar. Bangunan parkir 4 hektar. Sedangkan bangunan mal sendiri luas kotor 8 hektar," paparnya.
Paris van Java dan Wawa Sulaeman yang Fenomenal
Kali ini saya harus memberi rekomendasi kepada Anda yang akan ke Bandung: jangan lupa datang ke Paris van Java di Sukajadi. Nikmati suasana alfresco dining dan main street-nya. Mengapa? Nah ini dia yang ingin saya ceritakan.
Akhir pekan lalu, saya berkunjung ke Bandung, khusus untuk menikmati Paris van Java. Begitu sampai di lapangan parkirnya yang luas tapi penuh, saya terkagum-kagum. Waw, Paris van Java memang memesona, sesuai namanya. Saya memang baru pertama datang ke Paris van Java, resort lifestyle berkonsep main street dan alfresco dining, sejak dibuka untuk umum November 2006 lalu.
Bayangkan, dari ujung ke ujung, resto dan kafe yang dibuka di depan Paris van Java, semua bersuasana alfresco dining, makan di alam terbuka. Dan semuanya ramai. Dari Raffel, Gelato Bar, Cafe Halaman, Newspaper, Red Bean, BMC, Cafe Oh La La, Black Canyon Coffee, Cafe Manchester United, Zenbu, Javana Bostro, Sushigroove, KFC, J-.Co, sampai Putri Kenanga.
Menikmati malam minggu di Paris van Java, seperti menikmati suasana alfresco dining di kota-kota lain di mancanegara. Saya menikmati malam minggu di Black Canyon Coffee, menikmati hidangan Thailand yang 'spicy'. Sahabat saya, Ardi Joanda, pemilik lisensi waralaba Charmy Snow Ice yang membuka gerainya di Paris van Java bilang, dari semua resto dan kafe yang ada di sana, dia paling suka Black Canyon Coffee, yang masakannya memang enak. Makan di resto ini bukannya diiringi musik lembut, tetapi justru house music!
Mungkin saja, house music itu untuk mengimbangi suasana di Cafe Manchester United di seberangnya. Pada Sabtu malam itu, suasana begitu ramai. Rupanya Manchester United sedang berlaga dengan Liverpool. Setiap kali bola nyaris masuk gawang, para penonton berteriak gemas. Yah, cafe MU yang menyediakan layar lebar, makin banyak didatangi penggemar bola. Dan ternyata MU akhirnya unggul 1-0 atas Liverpool.
Suasana alfresco dining di Paris van Java makin asyik. Dan semakin malam, semakin ramai orang datang ke Paris van Java, dan pulang sampai larut bahkan hingga pukul dua dinihari.
Paris van Java yang Fenomenal dan Wawa Sulaeman
Saya menyebut kehadiran Paris van Java sangat fenomenal. Konsep alfresco dining dan main street yang diterapkan pada Paris van Java, bisa jadi merupakan yang pertama di Asia Tenggara. Setidaknya, itulah yang disampaikan pemilik Paris van Java, Wawa Sulaeman dalan perbincangan dengan saya hari Minggu 4 Maret.
Saya baru pertama bertemu dengan Pak Wawa. Orangnya memang nyentrik. Penampilannya sangat santai: bercelana pendek. Tak ada pengunjung yang bakal tahu, lelaki bercelana pendek itu adalah sang pemilik. Bahkan sahabat saya Ardi Joanda terkagum-kagum pada Wawa, karena Ardi pernah melihatnya membawa sekop dan membersihkan sampah di seputar Paris van Java. "Sungguh luar biasa," begitu komentar Ardi, yang pernah jadi CEO perusahaan furnitur terkemuka, Da Vinci itu, terhadap Wawa.
Dari perbincangan saya dengan Pak Wawa Sulaeman, saya mendapat kesan bahwa Paris van Java memang proyek impiannya sejak 15 tahun lalu, yang akhirnya dapat diwujudkannya saat ini. Setiap detil desain di gerai-gerai Paris van Java, dia ikut memberi konsultasi. Maklum, Pak Wawa ini seorang arsitek ITB 1978, yang punya pengalaman banyak di perusahaan properti Grup Ciputra dan CDJ.
Salah satu karya desainnya adalah Pondok Indah Mal pertama, yang hingga kini masih eksis. Juga beberapa karyanya di sejumlah pusat perbelanjaan di beberapa kota di Indonesia. Tapi semua desainnya mirip atau sama.
Namun kali ini Wawa membuat yang berbeda dengan konsep main street dan alfresco dining. Proyek ini spektakuler. Awalnya banyak yang ragu, tapi dalam waktu singkat, Paris van Java menjadi ikon kota Bandung, menggeser Ci-Walk (Cihampelas Walk).
Pada hari biasa, pengunjung Paris van Java 15.000-18.000 orang/hari, pada akhir pekan seperti kemarin itu, 40.000 orang/hari. Dan jika ada acara khusus, bisa meledak mencapai 75.000/hari. Sungguh dahsyat!
Pak Wawa sangat antusias bercerita pada saya, bagaimana pada awalnya dia kurang dipercaya calon penyewa. Sebab sejak Bandung Indah Plaza, sudah banyak yang gagal "bermain" di properti mal.
Paris van Java akan sulit ditiru pada zaman sekarang. Mengapa? Karena lahan parkir di depan saja luasnya dua hektar. Wawa memang memberi banyak ruang terbuka pada proyek fenomenalnya. Pengembang mana yang berani seperti itu? Jangan-jangan setiap lahan kosong dijadikan ruko! Tapi justru lahan parkir di depan yang relatif luas itulah, yang membuat keunggulan Paris van Java.
Pak Wawa juga bercerita bagaimana awalnya Blitz Megaplex, melengkapi Paris van Java yang fenomenal. Awalnya dia menawarkan kepada Cinema 21, namun ditolak dengan alasan Cinema 21 sudah buka di Ci-Walk. Lalu datanglah anak-anak muda profesional yang menawarkan Blitz!
Pak Wawa bilang dia semula kurang percaya, sebab dari mana film-film Blitz berasal. "Mereka bilang didukung oleh Golden Screen Malaysia. Yang membuat saya akhirnya setuju Blitz masuk ke Paris van Java adalah ketika mereka membeberkan rencana jam putar di sembilan layar. Setiap 15 menit, ada jam putar. Jadi pengunjung yang telat datang, tetap bisa menunggu tak terlalu lama, tetap bisa nonton film yang diinginkan di layar lain. Konsep ini biasa diterapkan di bioskop-bioskop luar negeri," cerita Wawa.
Blitz Megaplex ternyata mengguncang Cinema 21 di seluruh Bandung. Konon, 52 persen penjualan tiket bioskop di Bandung, diambil oleh Blitz. Lalu ada rumor, no-mat (nonton hemat) Cinema 21 ditambah harinya menjadi Senin sampai Kamis, agar penonton tidak lari ke Blitz.
Paris van Java dan Wawa Sulaeman memang fenomenal. Saya perkirakan, masyarakat menengah dan menengah atas Kota Bandung sendiri, tumplek di Paris van Java, menikmati suasana berbeda resort lifestyle. Ini belum banyak orang Jakarta tahu Paris van Java. Kalau sudah tahu, wah, bisa-bisa jumlah pengunjung berlipat ganda.
Sungguh! Kali ini saya wajib memberi rekomendasi: jika datang ke Bandung, snggahlah di Paris van Java, yang belum ada duanya, di Bandung, di Jakarta, di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Sudah ada tiga pengusaha Singapura menghubungi Pak Wawa, minta agar dia mendesain Paris van Java di Singapura. Tapi Pak Wawa bilang, "Paris van Java ya tetap Paris van Java. Dia harus berada di Bandung dan milik Bandung!"
(Special thanks for my best friend, Ardi Joanda, the owner of franchise license of Taiwan, Charmy Snow Ice and Chief Executive Officer (CEO) of Medici Living. Thanks for our journey with your black Jaguar, Mr Ardi!)
KOMPAS
Gaya Hidup
DARI "HELIMOUSINE" HINGGA "ALFRESCO DINING"
Oleh R Adhi Kusumaputra
Karawaci, Tangerang, Banten, sudah menunggu heli Bell 407 buatan
Amerika Serikat. Pilot heli Capt S Heru Susatyo membawa terbang heli
itu ke helipad gedung Citra Graha dalam waktu 10 menit. Heli itu
membawa penumpang sejumlah petinggi Grup Lippo.
sekitar 1.000 kaki atau 300 meter. Udara Jakarta ternyata kotor
akibat polusi. "Udara Jakarta baru bersih pada pagi hari kalau
misalnya hujan turun malam sebelumnya," kata Heru.
tampak kemacetan panjang di Jalan Tol Kebon Jeruk menuju
Tomang. "Kemacetan parah di tol itu yang membuat para pebisnis
enggan kehilangan waktu berharga mereka," ujar Heru.
Lippo. Dan salah satu tujuan taksi udara ini diadakan adalah untuk
menunjang mobilitas para petinggi grup Lippo yang berkantor di
Karawaci ke Jakarta, termasuk ke Bandara Soekarno-Hatta," kata
Marketing Manager PT Air Pacific Maria Goretti Lioba, perusahaan yang
mengoperasikan helimousine itu kepada Kompas, Jumat.
puncak Grup Lippo, tetapi juga para pengusaha dan pimpinan puncak
perusahaan terkemuka, yang enggan terjebak macet di jalanan
Jakarta. "Taksi udara ini sudah menjadi semacam kebutuhan bagi para
pebisnis Jakarta. Mungkin juga menjadi gaya hidup kalangan jetset,"
tutur Heru Susatyo yang juga Operation Manager PT Air Pacific.
bertempat tinggal di Lippo Karawaci, naik taksi udara seperti
helimousine merupakan kebutuhan, mengingat mobilitasnya yang
tinggi. "Pak Tung itu pembicara terkemuka yang diundang bicara di
banyak kota. Dia rutin menggunakan helimousine ini," ucap Maria.
Kalaupun digunakan hanya 10 menit, biaya yang dikenakan tetap biaya
satu jam. Salah satu paket yang diminati adalah shuttle ke bandara,
yang biayanya Rp 3 juta sekali jalan.
kalau bukan pemilik perusahaan, ya pimpinan puncak perusahaan besar.
Akan tetapi ternyata harga bukan menjadi masalah. Sebab bagi
pebisnis, waktu adalah uang. Daripada bermacet-macet di jalanan
Jakarta, lebih baik terbang dengan helimousine, dengan waktu tempuh
sangat singkat.
hingga pukul 18.00. Dalam sehari itu bisa delapan sampai 10
kali terbang. "Kami punya helipad di Hotel Aryaduta, Gedung Citra
Graha, dan Aston Sudirman Jakarta," ungkap Maria. Saat ini sedang
dibangun helipad baru di Plaza Semanggi, Jakarta.
Lippo Karawaci di Tangerang. Kawasan seluas 3.000 hektar ini sudah
menjadi kota mandiri, di mana sudah tersedia rumah dengan fasilitas
pendukung yang sangat memadai. Mulai dari Supermal Karawaci, Sekolah
dan Universitas Pelita Harapan, Rumah Sakit Siloam, sampai lapangan
golf internasional dan tempat makan di alam terbuka (alfresco dining).
termewah di Jakarta, Kompas dan sejumlah wartawan diajak berkeliling
ke Country Club Imperial Aryaduta di Karawaci.
eksklusif yang terbatas untuk anggota ini menjadi salah satu
keunggulan properti PT Lippo Karawaci yang meraih penghargaan sebagai
The Best Developer in Indonesia tahun 2005 dan masuk 10 besar di Asia
Pasifik," kata Corporate Communication General Manager PT Lippo
Karawaci Danang Kemayan Jati.
Aryaduta, rombongan diajak berkeliling ke lapangan golf 18 hole
Imperial Klub Golf seluas 70 hektar dengan golf car. Rumah-rumah
mewah yang memiliki view hijaunya lapangan golf dan danau buatan
tampak begitu asri dan nyaman.
hole 8 yang dinamakan hole Madonna," kata General Manager Imperial
Klub Golf Simon Subiyanto. Lapangan golf yang dirancang Desmond
Murhead ini bergaya Scottish, memiliki panjang 6.429 meter, sering
digunakanuntuk pertandingan golf internasional.
"Alfresco dining"
Ketika malam sudah tiba, lampu-lampu di kawasan ini mulai
benderang. Alfresco dining di Benton Junction menjadi pilihan utama.
Di sini terdapat 25 resto dan kafe yang tempat makannya di alam
terbuka.
"Konsep alfresco dining populer di Eropa. Kami bangun di
seberang Menara Matahari, Menara Asia, dan Kampus Universitas Pelita
Harapan, ternyata responsnya bagus," kata Chief Operating Officer
(COO) Aryaduta Hotel Gregory Ernoult.