Singapura Unggul dalam Promosi Wisata
KOMPAS
Jendela
Senin, 06 Juni 2005
Singapura Unggul dalam Promosi Wisata
KAWASAN Orchard Road di Singapura hingga kini masih menjadi tempat belanja dan tempat nongkrong paling favorit. Boleh jadi karena kawasan itu memiliki trotoar lebar dan teduh yang membuat siapa pun yang berada di sana menjadi betah.
Di kawasan Orchard Road dan sekitarnya, terdapat sedikitnya 41 pusat perbelanjaan dan 16 hotel. Wajar jika banyak wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia, yang nongkrong di kafe-kafe di ruang terbuka dan berjalan-jalan di seputar pusat-pusat perbelanjaan.
Tak selamanya orang Indonesia datang ke Singapura hanya menghabiskan uang dengan berbelanja. Akhir pekan lalu, Kompas menemukan sejumlah anak muda Indonesia jalan-jalan mencari suasana baru. Sebetulnya, mal-mal di Jakarta tak kalah dengan mal-mal di Singapura, baik desain interior maupun barang-barang yang dijajakan. "Soal barang, Jakarta tidak kalah. Tetapi, Jakarta tak punya suasana seperti di Orchard Road. Jakarta punya banyak mal, tetapi tak ada suasana seperti di Singapura," kata Nanda, mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Jakarta.
Yang dicari anak-anak muda Indonesia-yang menginap di hotel murah YMCA-itu ternyata suasana. Mereka membeli suasana. Lihatlah, trotoarnya lebar, memanjakan pejalan kaki. Berjam-jam orang berjalan kaki di sepanjang Orchard Road, tidak membuat capek. Toh, setiap beberapa meter ada bangku-bangku untuk beristirahat sejenak. Yang juga penting adalah rasa aman dari aksi kejahatan jalanan.
Selain itu, juga tersedia kafe-kafe di ruang terbuka, seperti Coffee Bean, Starbucks, dan beberapa tempat nongkrong lainnya. Inilah kebutuhan gaya hidup kaum yuppies Asia. Suasana seperti ini jarang ditemukan di Jakarta.
Benarkah di Jakarta suasana pusat kota dengan trotoar lebar dan teduh belum ada? Dulu pernah ada rencana membuat hal serupa di kawasan Casablanca (Jalan Prof Satrio), tetapi entah kenapa rencana itu tidak terwujud. Yang ada, kemacetan lalu lintas malah menjadi-jadi.
SEJAK lama Singapura mengincar orang Indonesia dari kelas menengah untuk datang ke sana, entah itu sekadar menghabiskan akhir pekan dengan nongkrong dan jalan-jalan, berbelanja, ataupun mengecek kesehatan. Singapore Tourism Board (STB) setiap tahun gencar mempromosikan kegiatan yang dapat mengundang wisatawan.
Pada musim liburan Juni-Juli ini, misalnya, Singapura menggelar Great Singapore Sale (GSS), Singapore Food Festival, Singapore Arts Festival, dan berbagai acara lainnya. Sulian Tan-Wijaya, Director Tourism Shopping Division STB, pekan lalu di Singapura mengatakan, acara-acara promosi wisata digelar saling bersinergi dengan tujuan agar makin banyak orang datang ke Singapura. Sebab, disadari, kini bertumbuhan destinasi belanja baru di Asia, seperti Kuala Lumpur, Dubai, Bangkok, Hongkong dan Shanghai.
Bahkan, Singapura jeli memanfaatkan momen penting, Peringatan 600 Tahun Laksamana Cheng Ho Menjelajah Dunia. Festival Admiral Zheng He ini akan digelar 1-10 Juli di Marina Promenade. Cheng Ho menjadi penting karena dia dianggap orang pertama yang menjelajahi dunia, 72 tahun lebih dulu mendarat di Benua Amerika, 100 tahun lebih dulu dari Ferdinand Magellan. Acara ini diperkirakan akan menarik sedikitnya 250.000 orang. Padahal, Singapura sesungguhnya tak pernah disinggahi Laksamana Cheng Ho dan armadanya.
Tetapi, itulah Singapura. Apa pun dapat dijual dengan kemasan bagus untuk turis. Taman Safari Malam (Night Safari), misalnya, dikemas sedemikian rupa sehingga ribuan turis datang menikmatinya. Padahal, Taman Safari Indonesia di Bogor tentu koleksinya lebih lengkap dan variatif.
Demikian juga, Singapura makin gencar mempromosikan spa dan perawatan kecantikan sesuai kebutuhan kelas menengah. Padahal, di beberapa kota di Indonesia, spa dengan ramuan tradisional Jawa rasanya lebih mantap. Ternyata memang kuncinya pada kata "menjual" atau "mempromosikan".
Singapura sangat gencar menjual dan mempromosikan apa saja yang bisa mengundang turis datang. Singapura membuat negara-kota ini nyaman dengan membangun infrastruktur memadai dan memudahkan akses turis.
Singapura juga aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kota di Indonesia dengan membuka penerbangan langsung ke Singapura tanpa harus lewat Jakarta.
Dua pekan lalu, Merpati Nusantara melayani rute Bandung-Singapura empat kali seminggu. Selain bertujuan memperpendek jarak Bandung-Singapura untuk menggaet pebisnis Singapura menanamkan investasi di Jawa Barat, penerbangan langsung ini juga tentunya berusaha mengajak warga Jabar lebih sering ke Singapura. Sebaliknya, turis-turis asing juga lebih mudah ke Bandung lewat Singapura.
Memang sejak lama orang Indonesia dikenal sebagai pembelanja sejati di Singapura, entah membeli barang-barang bermerek yang mahal di mal-mal berkelas sampai mencari barang berkualitas yang murah. Tanyalah pekerja di gerai-gerai di berbagai pusat perbelanjaan di sana, pasti mereka akan menjawab bahwa setiap hari ada saja orang Indonesia yang datang.
Jacqueline Wong, Marketing Communications Manager Boutique Roger Dubuis, misalnya, mengakui arloji mewah yang harga paling murahnya senilai 48.000 dollar Singapura dibeli oleh sejumlah orang Indonesia. Karena itu, perempuan muda ini senang jika ada orang Indonesia datang melihat-lihat arloji di tempatnya. Arloji Roger Dubuis hanya dijual di gerai yang dibuka di Grand Hyatt Singapura di kawasan Scotts Road, masih di seputar Orchard Road. Bayangkan, barang mewah bernilai ratusan juta rupiah saja dibeli orang Indonesia, apalagi barang-barang "biasa" dengan harga miring.
Pertanyaannya, apakah benar Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia tak mampu melakukan hal serupa? Tentu bisa. Lihatlah mal-mal di seputar Jakarta yang makin menggairahkan. Desain interiornya, produk yang dijual juga tak kalah dengan apa yang dijual di Singapura. Harganya? Lebih kompetitif dan pasti lebih murah di Jakarta, kecuali mungkin barang elektronik. Waralaba asing yang mengglobal juga sudah banyak ditemukan di Jakarta. Spa? Wah, spa di Jakarta dan beberapa kota lebih baik dengan ramuan tradisional. Hiburan malam, nightlife? Jakarta tidak kalah kok.
Tetapi mengapa turis tak henti-hentinya datang ke Singapura? Selain negara-kota itu nyaman, aman, memiliki infrastruktur terbaik, Singapura sebenarnya punya kelebihan dan kekuatan: badan pariwisatanya gencar dan aktif berpromosi menjual produk wisata dengan perencanaan matang dan saling bersinergi. Tentunya didukung dengan anggaran yang memadai.
Ini tentu berbeda kondisinya dengan badan pariwisata Indonesia, apalagi dinas pariwisata di tingkat provinsi dan kabupaten atau kota. Lihatlah, di Indonesia potensi wisata berlimpah dan apa saja ada. Hampir tiap provinsi punya wisata unggulan yang bisa dijual. Tetapi, sayang belum ada kesadaran bersama bahwa pariwisata dapat menjadi penghasil devisa utama negeri ini. (ROBERT ADHI KSP dari Singapura)