Hotel Manila, Saksi Sejarah Sembilan Dekade
KOMPAS
Metropolitan
Sabtu, 20 September 2003
Penulis Robert Adhi Ksp
Hotel Manila, Saksi Sejarah
Sembilan Dekade
JIKA Anda datang ke Manila, tetapi belum pernah ke Hotel Manila--hotel tua berusia 91 tahun--perjalanan Anda ke Filipina belumlah lengkap.
PEMERINTAH Kota Manila memang patut berbangga masih memiliki hotel tua yang menyimpan banyak sejarah. Selama sembilan dekade, Hotel Manila berdiri, menjadi saksi mata tentang kehidupan, percintaan, kemenangan. Perang, intrik, romansa, sejarah, semuanya hidup dalam dinding-dinding hotel ini.
Hotel Manila adalah nama yang memiliki keajaiban luar biasa, yang menerbitkan kenangan romantik. Ketika dibuka resmi pada 4 Juli 1912, persis pada peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS), tamu-tamu disuguhi American roast beef, Philippine lobster, dan French champagne.
Pada awalnya, Hotel Manila dibangun dengan konsep AS, didesain untuk kebutuhan orang-orang AS yang tinggal dan singgah di Manila.
Hotel yang dijuluki Waldorf of Manila dan Aristocrat of the Orient ini sering menjadi tempat penyelenggaraan berbagai acara penting. Bahkan hingga kini, hotel ini menjadi hotel bagi tamu-tamu resmi Pemerintah Filipina.
Kepala negara dan kepala pemerintahan berbagai negara, dan senator AS acapkali berkunjung dan menginap di hotel ini. Hubungan AS dan Filipina yang erat di masa lalu, membuat banyak Presiden AS dan wakilnya yang mengunjungi Filipina, selalu menginap di Hotel Manila.
Hotel yang lapang dengan kursi-kursi yang memancarkan kemewahan, menjadi ciri khas hotel ini. Lobi Hotel Manila memang menjadi tempat pertemuan yang favorit bagi orang-orang Amerika ketika Filipina menjadi bagian dari teritorial AS.
Menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian di lobi Hotel Manila, bukanlah hal yang menjemukan. Apalagi pada jam-jam tertentu pada siang, petang, dan malam hari, tamu dapat menikmati dentingan piano dan gesekan biola.
Nama besar yang pernah tinggal di hotel ini dan selalu dikenang adalah Jenderal Douglas MacArthur, Panglima AS untuk Pasifik dalam Perang Dunia II. Sebelumnya MacArthur tiba di Manila pada tahun 1935 atas permintaan presiden pertama Philippine Commonwealth Manuel Quezon sebagai penasihat militer negeri itu. Untuk mengenangnya, pemilik hotel memberi nama salah satu suite dengan nama suite MacArthur.
Hotel ini beberapa kali mengalami renovasi dan restorasi. Tahun 1976, hotel ini direnovasi dengan biaya sekitar 30 juta dollar AS, dan setelah itu langsung menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Dana Moneter International (IMF). Sukses itu membuka jalan bagi Manila sebagai pusat konferensi di kawasan Asia Tenggara.
Restorasi modern Hotel Manila dilakukan oleh Leandro Locsin, arsitek brilian, yang juga arsitek bangunan sejumlah pusat pemerintahan dan Cultural Center Theater di Manila, salah satu gedung terindah di dunia.
Selama masa boom hotel pada pertengahan tahun 1970-an, 14 hotel baru dibangun, sebagian besar dilengkapi dengan fasilitas konvensi. Dari empat hotel mewah, tiga di antaranya didesain oleh Leandro Locsin, yaitu Mandarin Hotel di Makati, di pusat kota Manila, Plaza Hotel yang bergaya ultramodern, yang merupakan bagian dari kompleks Cultural Center yang berada di Manila Bay sepanjang Roxas Boulevard, dan Hotel Manila yang direstorasi.
Semua kamar di hotel ini memiliki view yang indah, baik yang menghadap ke Manila Bay, ataupun yang menghadap ke Taman Jose Rizal-salah satu taman kota yang terbersih di dunia.
SUASANA sangat romantis di Hotel Manila dapat ditemukan di salah satu restorannya yang elegan, "Champagne". Di sini, pengunjung restoran ini dapat menikmati hidangan continental dengan wine terbaik, sambil mendengarkan musik yang dimainkan grup ensemble.
"Maynila Hall" merupakan salah satu tempat makan yang indah di hotel itu. Pengunjung restoran dapat menikmati hiburan yang disajikan grup tari dan dansa Filipina terkenal di negeri itu.
Saat penutupan Konferensi ASEAN Chiefs of National Police (Aseanapol) Ke-23 di Maynila Hall pada 11 September 2003 lalu, semua anggota delegasi menikmati sajian grup "Bayanihan Dance Troupe", yang sudah melanglang buana.
Tradisi masyarakat Filipina yang gemar berdansa membuat hotel ini selalu "hidup" dan "hangat". Dari tango, waltz, cha-cha-cha, jive, sampai salsa, dan dansa lainnya. Tradisi dansa ini terus berjalan sejak sembilan dekade lalu, dan itu dilakukan oleh tamu-tamu very very important person (VVIP) yang menginap di hotel ini sampai pada tamu-tamu hotel biasa.
Hotel Manila juga sering menjadi tempat pernikahan, karena tempatnya yang romantik dan bersejarah dan penuh kenangan.
Hotel Manila adalah saksi sejarah Filipina. Andaikan dapat bercerita, dinding-dinding kamar hotel itu akan mampu berkisah banyak hal tentang kehidupan manusia, tentang percintaan, kesedihan, kecemburuan, kegembiraan, dan kemenangan.
Bagaimana dengan Jakarta? Kita tak punya hotel setua Hotel Manila, yang punya nilai sejarah dan noltalgik yang luar biasa. Kita tak punya lagi hotel tua yang menjadi ciri dan identitas sebuah kota. Kita memang punya bangunan tua seperti Museum Sejarah Fatahillah, akan tetapi siapa yang suka datang ke museum, di saat maraknya pembangunan pusat- pusat perbelanjaan modern?
Para pengusaha kita lebih suka merobohkan bangunan tua dan mendirikan mal dan plaza modern. Tak ada satu pun hotel yang dibangun di Jakarta merupakan hotel yang benar-benar berusia tua.
Sebagai kota, karakteristik Manila sebetulnya tak jauh berbeda dengan Jakarta. Akan tetapi, Manila memiliki warisan budaya yang tak terkira nilainya. Hotel Manila yang berusia 91 tahun, hotel yang membuat Manila tetap dikenang banyak orang. Dari lobinya, restorannya yang bernuansa romantis, sampai pada interior kamarnya yang khas.
Andaikan Jakarta memiliki hotel seperti Hotel Manila....
(ROBERT ADHI KSP, dari Manila, Filipina)
foto Manila Hotel di blog ini dikutip dari http://www.flickr.com/photo_zoom.gne?id=139506418&size=m