Clarke Quay, Romantisme di Tepi Sungai Singapura
KOMPAS
Senin, 06 Jun 2005
Halaman: 46
Penulis: Robert Adhi Kusumaputra
CLARKE QUAY, ROMANTISME
DI TEPI SUNGAI SINGAPURA
SUARA musisi jazz Norah Jones yang diputar dari CD terdengar
lembut dari sebuah restoran di tepi Sungai Singapura di kawasan
Clarke Quay. DonÆt Know Why dan Come Away with Me mengalun lembut,
mengingatkan kita pada film Maid in Manhattan yang dibintangi
Jennifer Lopez, cerita tentang seorang pekerja hotel yang menjalin
cinta dengan calon senator.
Musik jazz yang diperdengarkan di resto-resto di Clarke Quay
tampaknya ingin memberi kesan romantis bagi mereka yang menikmati
makan malam di restoran di tepi sungai. Clarke Quay kini menjadi
salah satu alternatif utama wisatawan maupun warga Singapura
melakukan rendezvous, menikmati makan malam ataupun sekadar ngopi,
ngobrol, dan nongkrong.
Sedikitnya terdapat 14 restoran berkelas internasional di Clarke
Quay. Mulai dari Restoran The Forbidden City, Peony Jade, Coriander
Leaf, Quayside Seafood, Fish Tales dengan cita rasa hidangan laut dan
masakan Asia, sampai pada Tapas Tree dengan cita rasa Spanyol, Renn
Thai yang menghidangkan masakan Thailand, dan Via Veneto yang bercita
rasa Italia.
Setelah makan malam, pengunjung biasanya mendatangi klub malam
ataupun bar yang jumlahnya sembilan. Salah satunya Attica, yang
mendapat izin buka sampai pukul 06.00 pagi. Menurut Terry, manajer
klub malam Attica, Jumat pekan lalu di Singapura, klub yang
dikelolanya terbuka untuk umum di lantai pertama, namun di lantai dua
hanya untuk anggota klub.
Berdasarkan pengamatan Kompas, hampir semua klub malam dan bar di
Clarke Quay penuh. Musik hip hop yang ngetren dan musik house yang
terdengar di klub-klub malam itu menegaskan, dunia hiburan malam
Singapura terus berdenyut tanpa henti. "Banyak kaum yuppies Singapura
mendatangi Clarke Quay sehabis pulang kerja dan tidak pulang ke rumah
dulu," kata petugas STB, Mohamed Yusoff Mahmood, kepada Kompas akhir
pekan lalu.
Clarke Quay saat ini memang tempat nongkrong kaum yuppies
Singapura dan juga wisatawan mancanegara yang berlibur di negara-kota
itu. Bahkan menjadi tempat favorit setelah Clarke Quay dibenahi dan
menghabiskan biaya sedikitnya 15 juta dollar Singapura.
Jika sebelumnya Orchard Road yang selalu menjadi sentral kegiatan
di Singapura, kini banyak yang beralih ke Clarke Quay. Setelah
Pemerintah Singapura berkomitmen membersihkan sungai selama 10 tahun
dan rampung tahun 1987, kawasan tepian sungai akhirnya dapat
dimanfaatkan maksimal.
Suasana di tepi Sungai Singapura kini makin semarak. Resto-resto
diberi kanopi berwarna. Dari tempat duduk di restoran, Anda dapat
menikmati kelap-kelip lampu gedung-gedung jangkung di seberang
sungai, sambil meneguk anggur dan menyantap hidangan laut ataupun
pizza.
Tentu saja Clarke Quay tidak hanya memanjakan perut Anda. Sebab,
di kawasan ini Anda bisa menikmati tur perahu yang menjelajahi Sungai
Singapura, dibuka sejak pagi hingga menjelang tengah malam.
Di Clarke Quay pula wisatawan dapat mencoba permainan menantang
sekaligus mengasyikkan, G-Max. Bayangkan bagaimana rasanya Anda
ketika dilempar ke udara sejauh 60 meter dengan kecepatan 200
kilometer per jam. Meskipun harus mengeluarkan kocek 30 dollar
Singapura, banyak orang yang mencoba dan kemudian mengulangi
permainan mendebarkan ini. Di kawasan ini pula, wisatawan dapat
melihat langsung bagaimana pembuatan barang-barang Royal Selangor.
***
BADAN Pariwisata Singapura atau Singapore Tourism Board (STB)
merencanakan menciptakan kawasan sekitar Sungai Singapura tetap hidup
selama 24 jam dan dapat dinikmati kaum yuppies Asia yang berkunjung
ke sana. STB ingin kawasan tepi sungai menjadi menarik dikunjungi dan
merupakan ikon tepi sungai di Asia, dengan perbandingan Darling
Harbour di Sydney, FishermanÆs Wharf di San Fransisco, dan South
Street Seaport di New York.
The Sunday Times belum lama ini menulis, daerah tepian sungai
mulai dari mulut Sungai Singapura di Marina Bay hingga ke Kim Seng
Bridge dan Great World City rencananya akan dibuat zona 24 jam.
Sasarannya sudah jelas: kawasan ini harus menjadi tujuan utama yang
harus dikunjungi kalangan menengah atas, yaitu kaum profesional muda,
lajang ataupun pasangan tanpa anak.
Tahun 2015, STB merencanakan kawasan tepi sungai akan menjadi
area 24 jam, mulai Clarke Quay, Boat Quay, Empress Place, Robertson
Quay hingga Zouk. Tampaknya rencana ini muncul setelah dunia hiburan
dan dunia makan di Singapura terus berkembang. Phil Robinson, pemilik
Restoran The Tapas Treen, seperti dikutip The Sunday Times,
mengatakan, perlu diciptakan atmosfer, yang terkait dengan acara-
acara semacam Singapore Food Festival. Pauline Graham, pemilik
Restoran Peony-Jade dan Quayside Seafood, mengatakan, acara olahraga
air akan memikat lebih banyak pengunjung, sedangkan pemilik pub,
Simon Lim, mengajukan usulan diadakan serangkaian festival makanan
dan anggur (wine).
Beberapa lagi mengusulkan, mengapa misalnya tidak dibuat pasar
malam pada hari-hari biasa, setelah jam makan malam usai. Dengan
demikian, ada aktivitas lain yang bisa dilakukan saat ke Boat Quay
maupun Clarke Quay, selain makan dan minum maupun menikmati hiburan
malam.
***
SELAIN menghidupkan daerah tepian sungai, Singapura memanfaatkan
setiap lahan yang ada sebagai lokasi wisata. Singapura sadar betul
bahwa mereka tak punya sumber daya alam. Yang ada adalah sumber daya
manusia yang andal, yang mampu memutar otak agar wisatawan terus
datang ke Singapura, berbelanja, makan dan minum, dan menikmati apa
pun yang ada.
Salah satunya adalah kawasan pecinan atau Chinatown. Kawasan
bersejarah ini dianggap "rumah" pertama komunitas China di Singapura.
Status konservasi diberikan pada 7 Juli 1989. Bangunan dan lingkungan
fisik diperbaiki. Daerah-daerah utama yang menjadi sentral aktivitas
didata. Bangunan satu lantai dimanfaatkan sebagai toko atau tempat
makan.
Kini Chinatown menjadi pusat aktivitas masyarakat China
Singapura. Berbagai kegiatan seni dan budaya digelar di kawasan
pecinan ini. Kios-kios suvenir dan pub berdiri di sini. Demikian
halnya dengan bisnis tradisional China, seperti tempat penjualan
porselen, tempat minum teh, dan tempat pengobatan, semua masih
beroperasi.
Bukan hanya bangunan tua di pecinan yang dilestarikan dan menjadi
aset wisata. Ada ribuan bangunan tua serupa yang diberikan status
konservasi di Kampong Gelam, Little India, dan Boat Quay. Sedikitnya
tercatat 5.000-an bangunan tua di Singapura yang mendapat status
konservasi. Separuh dari jumlah itu direstorasi dan disulap menjadi
kantor, toko, hotel, restoran, dan tempat tinggal. Bangunan-bangunan
tua tersebut tetap dilestarikan, bersanding dengan gedung-gedung
jangkung berarsitektur modern di jantung kota. Ini semua memberi
warna unik identitas Singapura yang plural tetapi satu.
Di Kampong Gelam, identitas Melayu tetap bersinar. Restoran
Melayu seperti milik Hj Maimunah selalu dipenuhi peminat. Demikian
juga di kawasan Little India dengan Mustafa Centre yang buka 24 jam,
memikat wisatawan berbelanja barang dengan harga relatif murah. Semua
lokasi wisata dapat dijangkau menggunakan transportasi MRT, bus,
maupun taksi dengan mudah.
Demikianlah Singapura. Seakan tak ada satu tempat pun di sana
yang dibiarkan menganggur dan tersia-sia. Apa pun bisa disulap
menjadi tempat wisata yang menarik, yang mendatangkan uang, dan pada
gilirannya menyejahterakan masyarakat setempat.
Melihat Singapura mampu menyulap daerah kumuh dan kotor menjadi
destinasi wisata, kita pun bertanya-tanya mengapa kota-kota di
Indonesia hingga kini belum mampu melakukan hal serupa. Kawasan
Pecinan di Jakarta dan Semarang, misalnya, seharusnya dapat meniru
konsep Singapura sehingga dapat menjadi daya tarik kota.
Demikian juga pemanfaatan daerah tepi sungai, seperti yang
dilakukan Singapura, dapat pula diterapkan di kota-kota yang dilalui
sungai, antara lain seperti Pontianak di Kalimantan Barat, yang
dibelah Sungai Kapuas, atau Palembang di Sumatera Selatan yang
dilewati Sungai Musi.
Setiap kali datang ke Singapura, setiap kali pula hati ini
bertanya-tanya, mengapa kota-kota di Indonesia tak mampu membangun
hal serupa? Sementara banyak kota di Asia Tenggara yang sudah mulai
meniru Singapura, seperti misalnya Kuching di Sarawak, Malaysia, yang
punya daerah tepi sungai dan taman-taman kota yang hijau yang memikat
turis. Juga Kuala Lumpur dengan konsep Bintang Walk-nya yang mencoba
meniru Orchard Road yang memiliki trotoar lebar.
Sedangkan kota-kota kita di Indonesia?
(ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA, dari Singapura)