Berjalan Kaki di Bintang Walk
BERJALAN KAKI DI BINTANG WALK
BINTANG Walk adalah lokasi yang menyenangkan bagi pejalan kaki di
Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia. Bintang Walk boleh dikatakan mirip
dengan kawasan Orchard Road di Singapura atau kawasan Ginza di
Jepang, Champ Elysees di Paris, ataupun Knightsbridge di London.
Sebuah tempat entertainment, shopping, dan dining.
Di kawasan Bintang Walk, orang bisa berjalan kaki tanpa takut
disenggol kendaraan karena lebar trotoar sekitar tiga meter. Orang
bisa sekadar minum kopi di kafe di tepi trotoar sambil ngobrol
santai. Kawasan ini merupakan jantung Kota Kuala Lumpur, mulai dari
Jalan Bukit Bintang hingga ke Jalan Sultan Ismail dan Jalan Imbi.
Pemerintah Malaysia agaknya menyadari betul ketika mulai
membangun trotoar Bintang Walk tiga tahun silam. "Kami butuh sebuah
kawasan yang punya identitas. Sebuah kawasan yang dikitari pusat
perbelanjaan dan hotel berbintang," kata Deputi Direktur Divisi
Promosi Internasional Badan Pariwisata Malaysia Nor Adnan Sulaiman di
Kuala Lumpur, pekan lalu.
Trotoar di kawasan Bintang Walk dibangun untuk memperkuat kawasan
niaga Bukit Bintang (BB) yang sudah ada lebih dulu. Di kawasan BB
cukup banyak terdapat pusat perbelanjaan dan hotel berbintang. Sebut
saja pusat perbelanjaan Lot 10 yang trendi, Starhill yang prestisius,
juga Low Yat, KL Plaza, BB Plaza, sampai Imbi Plaza. Juga hotel-hotel
berbintang mulai dari Hotel Federal, hotel bersejarah karena di
sanalah perayaan kemerdekaan Malaysia 31 Agustus 1957 diadakan,
sampai hotel-hotel mewah: JW Marriott, Ritz-Carlton, Westin, sampai
Regent.
Berbeda dengan Pemerintah Provinsi Jakarta yang hanya membuat
rencana membangun trotoar di sepanjang Jalan MH Thamrin, Pemerintah
Kota Kuala Lumpur serius membangun kawasan wisata kelas dunia.
Trotoar Bintang Walk mulai terwujud sejak tiga tahun silam. Di
trotoar itu ditanam pohon-pohon sebagai peneduh.
Sejak petang hingga malam hari, kawasan Bintang Walk makin hidup
dan berdenyut. Turis-turis yang datang ke Kuala Lumpur, termasuk
wisatawan asal Indonesia, tak melewatkan kesempatan berbelanja barang-
barang bermerek. Di Lot 10 ataupun Starhill Centre, barang bermerek
seperti Louis Vuitton, Gucci, sampai Braun Buffel dapat ditemukan
dengan harga bebas cukai. "Kami ingin Malaysia menjadi alternatif
surga belanja selain Singapura. Bintang Walk yang dibangun di kawasan
golden triangle dibuat untuk menandingi Orchard Road," ungkap Adnan.
Restoran berkelas untuk dining begitu mudah ditemukan, seperti
Marriott Cafe dan Shanghai Restaurant di Hotel JW Marriott,
RossiniÆs, Li Yen dan Cesar di Hotel Ritz-Carlton, Shook! dan
Sentidos Tapas di Starhill Centre, atau Societe Cafe dan Hawkers di
Lot 10. Restoran Cina bersejarah di Hotel Federal dengan desain
interior khas Cina masih tetap bisa dinikmati. Di restoran inilah
pemimpin Malaysia merayakan kemerdekaan negara itu 46 tahun yang lalu.
Berjalan kaki di kawasan Bintang Walk membuat orang Indonesia
iri, apalagi mengingat rencana DKI membangun trotoar di Jalan MH
Thamrin. Rencana itu didengungkan sejak tujuh tahun silam, tetapi
hingga kini tak ada realisasinya. Sementara Jalan MH Thamrin makin
sesak dan pikuk, pejalan kaki makin waswas, cemas terserempet bus
kota dan sepeda motor. Sampai kapan mimpi Pemprov DKI Jakarta
memiliki kawasan seperti Bintang Walk di Kuala Lumpur atau Orchard
Road di Singapura bisa terwujud? (ROBERT ADHI KSP dari Kuala Lumpur)
KOMPAS
Selasa, 06 May 2003
Halaman: 18
Penulis: Robert Adhi Ksp
FOTO di blog ini suasana Bintang Walk, Kuala Lumpur, Malaysia, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS